+62 822-2333-3824 Hubungi Kami

Sejarah Pesantren Al Falah Sumber Gayam

Kiai Haji Mohamad Thoha lahir di sebuah kampung kecil yaitu kembang kuning yang berada di Desa Lancar Pamekasan pada tahun 1902. Sejak kecil Kiai Thoha diasuh dengan pola Pendidikan yang mapan dan religius. Ayahanda beliau, Kiai Djamaluddin adalah putera Kiai Ruham, seorang yang kesohor sebagai ulama besar pada masanya. Bersama Nyai Fatimah, Kiai Dajamaluddin berkomitmen untuk menanamkan dasar Pendidikan agama yang kuat bagi Kiai Thoha. Di usia yang baru menginjak 7 tahun, Kiai Thoha sudah dilepas untuk belajar di pesantren Karay Sumenep selama 3 tahun. Masa di mana anak-anak harusnya dekat dengan orang tua dan menghabiskan waktunya untuk bermain, Kiai Thoha kecil harus bergelut dengan belajar ilmu agama.

Sepertinya memang garis takdir sebagai orang berilmu tinggi ada pada diri Kiai Thoha. Baru saja selesai dari pesantren Karay, beliau Kembali harus berpisah dengan keluarganya untuk Kembali melanjutkan pengembaraan ilmunya di usia yang masih sangat belia. Tak tanggung-tanggung, kali ini Kiai Thoha dikirim ke mancanegara yakni ke tanah suci Mekkah untuk belajar di Madrasah Dhairiyah. Memang masa itu beberapa kerabat beliau sudah banyak yang berkunjung ke jazirah arab ini untuk berbagai misi dari belajar hingga berniaga seperti keluarga paman beliau Kiai Syamsul Arifin, sampai-sampai Kiai As’ad, putera Kiai Syamsul lahir di Mekkah. 

Di Dhairiyah, Kiai Thoha bertahan hingga 3 tahun lamanya. Setelah itu, tanpa memberikan jeda istirahat mencari ilmu, Kiai Thoha Kembali dikirim ke Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan untuk memperdalam ilmunya. Pesantren Syaikhona Kholil banyak sekali menghasilkan lulusan yang kelak menjadi ulama besar seperti Kiai Hasyim Asy’ari pendiri NU, Kiai Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah, Kiai As’ad Sukorejo, Kiai Zaini Tanjung, Kiai Hasan Genggong, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Abdul Hamid Banyuanyar dan masih banyak lagi kiai-kiai besar lainnya.

Selama di pesantren ini, Kiai Thoha rupanya menunjukkan diri sebagai santri yang sangat rajin dan cerdas. Penguasaan berbagai disiplin ilmu seperti Fiqh, Kalam, Tafsir, dan Alat menjadi perbincangan oleh para santri. Butuh waktu 7 tahun hingga Kiai Thoha memutuskan untuk pulang ke Kembang Kuning.

Nah, selama 2 tahun di Kembang Kuning sejak kepulangan dari pesantren inilah, Kiai Thoha banyak menghabiskan waktu untuk mengamalkan ilmunya dengan mengajari ilmu agama kepada orang-orang di desa Kadur. Sebab, orang Kadur harus rela jauh-jauh datang ke Kembang Kuning untuk mengaji. Atas dasar rasa iba atas perjuangan warga yang berdatangan itulah hamper saban hari Kiai Thoha memilih untuk dirinya sendiri saja yang berangkat menuju Kadur memberikan pengajian ilmu agama kepada masyarakat. Pada masa tersebut kondisi moral masyarakat Kadur bisa dikatakan sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Bromocorah, premanisme, dan bermacam-macam kemaksiatan inilah yang memanggil Nurani Kiai Thoha untuk bergerak memberantasnya.

Bertahun-tahun aktivitas yang sangat melelahkan jiwa dan raga ini oleh Kiai Thoha jalani dengan gigih, ikhlas, dan sabar. Dan pada akhirnya terketuklah hati Haji Asyari yang Ketika itu memiliki lahan kosong yang cukup luas, untuk menghibahkannya kepada Kiai Thoha. Agar suatu hari nanti Kiai Thoha bersedia untuk membangun tempat belajar dan kediaman permanen.

Tanah ini dikenal dengan nama Sumber Gayam karena di tempat tersebut dahulu terdapat sebuah sumber mata air yang lumayan luas dan di sekitarnya banyak ditumbuhi pohon Gayam. Sebenarnya tanah ini jauh dari kata ideal untuk sebuah permukiman karena lokasinya yang terjal ditambah dengan kondisi sumber mata air yang sudah kering meninggalkan tebing yang curam yang akhirnya ditimbun tanah agar tidak membahayakan orang-orang sekitarnya.

Namun, mengingat usia yang baru 22 tahun, usia yang masih sangat muda, membuat rasa haus akan pencarian ilmu belum habis. Pada 1923 beliau Kembali memutuskan untuk berangkat Kembali ke Mekkah untuk melanjutkan studinya di Madrasah Shaulatiyah. Apalagi melihat beberapa sahabat dan senior beliau sewaktu di Bangkalan melanjutkan belajar ke Mekkah itulah yang memotivasi Kiai Thoha untuk mengikuti jejaknya. Shaulatiyah bagi Kiai Thoha ibarat pintu ilmu-ilmu keislaman bagi yang ingin memasukinya lebih dalam. Meski kondisi dunia saat itu masih dalam masa kekacauan dunia akibat kolonialisme tidak menyurutkan tekad Kiai Thoha.

Tentunya hidup di timur tengah bukanlah hal yang baru bagi Kiai Thoha. Kecakapannya dalam beradaptasi menjadi keuntungan sendiri selama belajar di sana. Kiai Thoha banyak bergaul dengan para santri asal nusantara. Relasi ini nantinya akan sangat berpengaruh saat beliau Kembali ke tanah air. Sebab para santri di Shaulatiyah ini kelak menjelma menjadi ulama-ulama besar dan berpengaruh dalam kehidupan sosial keagamaan hingga dalam percaturan sejarah terbentuknya bangsa Indonesia ini.

Meski Kiai Thoha belajar di negeri seberang, rupanya masyarakat menyiapkan tanah Sumber Gayam agar seusai kiai Thoha pulang ke tanah air bisa segera menempatinya. Pada tahun 1924 H Asyari resmi memberikan tanah yang dijanjikan ini kepada Kiai Thoha. Setahun sejak Kiai Thoha berangkat belajar di Shaultiyah Mekkah. Tahun inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Al Falah Sumber Gayam.

Pada tahun 1926 gonjang-ganjing kebijakan Raja Saudi kala itu yang merugikan bagi penganut Islam Ahlussunnah Waljamaah dan tekanan kepada para ulama Sunni di Mekkah rupanya sampai ke telinga alumni Mekkah di tanah air. Hingga akhirnya terbentuklah Komite Hijaz yang menjadi embrio lahirnya oraganisasi Islam terbesar di tanah air bahkan di dunia, yaitu Nahdlatul Ulama di Surabaya. Ditambah lagi kebangkitan-kebangkitan pemuda-pemuda tanah air yang semakin menambah gejolak dinamika perlawan terhadap penjajah.

Rupanya ini disaksikan langsung oleh Kiai Thoha. Sehingga beberapa bulan setelah NU terbentuk, Kiai Sirajuddin Nasruddin Bettet yang tidak lain senior beliau yang juga sahabat Kiai Wahab Chasbullah, mengajak Kiai Thoha untuk mendirikan NU di Madura yang dimulai dari Pamekasan. Keadaan inilah yang memaksa Kiai Thoha untuk Kembali ke Indonesia untuk memenuhi permintaan tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya beliau banyak menghabiskan waktu untuk menjalin relasi antarulama baik di Madura maupun di Jawa.

Barulah pada 1928 Kiai Thoha resmi hijrah dari Kembang Kuning menuju bumi Sumber Gayam. Dan pada 1931 beliau resmi memimpin pesantren. Mulanya, pesantren ini belum ada Namanya. Namun masyarakat mengenalnya dengan sebutan Pesantren Sumber Gayam. Menjadi sebuah kearifan lokal jika dahulunya pesantren-pesantren tua di Indonesia lebih dikenal dengan nisbat kepada nama tempat atau daerah pesantren tersebut berdiri.

Di kemudian hari Kiai Thoha pada 1945 menentukan untuk pertama kalinya nama pesantrennya dengan nama Mujahidin. Mujahidin yang artinya para pejuang, berangkat dari muasal luar biasanya jiwa heroisme Kiai Thoha atas  situasi bangsa saat itu yang bergelut dengan perjuangan melawan penjajahan. Tercatat Kiai Thoha pernah menjadi pimpinan tertinggi pasukan Sabilillah Madura yang berjuang melawan penjajah Belanda, Jepang, dan Sekutu. Nama ini juga atas restu guru spiritual tarekat Naqshabandi beliau yaitu Kiai Abdul Hamid Krepek.
 Semangat heroik yang melekat pada diri Kiai Thoha ini tidak main-main. Pada agresi militer Belanda menyerbu Madura, Kiai Thoha berada di garda depan. Ini tidak lepas dari Fatwa Resolusi Jihad Kiai Hasyim Asy’ari yang membuat rasa nasionalisme beliau menggebu-gebu untuk mengusir penjajah dari negara yang sudah merdeka. Karena kegigihan ini, sampai-sampai bumi Sumber Gayam dibombardir oleh Belanda agar Kiai Thoha menyerah. Namun, Bersama kiai-kiai pejuang lainnya, kiai Thoha tidak gentar sedikitpun untuk menyerah di medan pertempuran. Bahkan beliau harus mengasingkan diri melitansi selat Madura menuju Jawa untuk berlindung dari serangan militer Belanda. Sisa-sisa kekejaman colonial di Sumber Gayam saat ini masih ada, yaitu berupa selongsong bom torpedo, bom khas perang dunia ke-2 yang dijatuhkan untuk membumihanguskan kediaman Kiai Thoha sebagai pusat pelatihan pasukan Sabilillah. Puncaknya adalah serangan umum yang terjadi di depan Masjid Agung Assyuhada Pamekasan. 

Meski keadaan yang begitu kacau, Kiai Thoha masih istiqomah mengajar para santri. Pola Pendidikan yang dijalankan berupa Diniyah yang masih menggunakan metode khas pesantren yaitu sorogan dan bandongan dengan mengkaji kitab-kitab kuning. 

Dan setelah 5 tahun berlalu, saat Indonesia resmi menjadi negara berdaulat dan Belanda angkat kaki, Kiai Thoha bisa fokus Kembali untuk membenahi pesantren yang beliau pimpin. Di kemudian hari beliau berinisiatif untuk mendirikan Lembaga Pendidikan yang bersistem klasikal yang mengadopsi pola Pendidikan formal modern untuk pertama kalinya. Dan beridirilah Madrasah Ibtidaiyah 6 tahun yang diberi nama Darul Falah. Hal ini disambut masyarakat dengan gegap gempita. Ada secercah harapan bagi anak-anak mereka. Madrasah ini bertahan hingga hari ini dan sudah menjadi Pendidikan formal yang selaras dengan sistem Pendidikan nasional Indonesia.

Antusiasme masyarakat yang semakin tak terbendung atas kebutuhan pendidikan lanjutan dari MI. Pondok pesantren menurutinya dengan mendirikan madrasah Muallimin atau sekolah keguruan Islam 6 tahun. Muallimin inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya sekolah menengah yang ada di pesantren saat ini.

Di samping sebagai seorang tokoh agama, pimpinan pesantren, syuriah NU Madura, Ketua Persatuan Ulama Madura, rupanya Kiai Thoha juga terlibat di aktivitas politik dan kenegaraan. Tercatat pada 15 Mei 1950 beliau diangkat menjadi Kepala Kantor Agama Karesidenan Madura. Karir politik beliau juga cukup gemilang. Pada 9 November 1956 hingga 5 Juli 1959 beliau dilantik sebagai Anggota Konstituante Republik Indonesia dari Partai NU.

Mendung kelabu menaungi bumi sumber gayam di tahun 1970. Kiai Thoha, sosok kharismatik, wira’I, religious, allamah, pemimpin, nasionalis, dan berjiwa pahlawan ini dipanggil oleh Allah SWT. Selesai sudah jerih payah perjuangan selama beliau hidup. Hanya kenangan dan kisahnya yang melintas dalam hati dan pikiran. Sisi perjuangan beliau  dari hal paling kecil sampai menyangkut masa depan bangsa tak pernah terlewatkan. 

Sepeninggal Kiai Thoha, Putera beliau Kiai Luthfi Thoha mengambil alih estafet kepemimpinan. Di bawah kendali Kiai Luthfi, pesantren ini mengalami akselerasi perubahan pola Pendidikan yang sangat cepat. Pengasuh kedua ini mengganti nama pesantren Al Mujahidin menjadi Nurul Falah atau cahaya kemenangan. Tentunya ini selaras dengan kisah yang melekat pada pesantren ini yang penuh dengan cerita perjuangan dan saatnya merasakan manisnya kemenangan yang dibangun oleh pendahulunya. Kendati demikian pesantren ini Kembali mengalami perubahan nama menjadi Al Falah pada tahun 1974. Dan nama inilah yang bertahan hingga saat ini.

Madrasah Muallimin dipecah menjadi dua sekolah lanjutan yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Masing-masing ditempuh selama 3 tahun belajar. Tak sampai di situ, Keberadaan MTs dan MA sebagai sekolah lanjutan dirasa belum cukup. Kiai Luthfi menambah lagi Lembaga Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai alternatif pilihan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya.

Belum puas sampai di situ, Kiai Luthfi mulai merancang untuk membuka peguruan tinggi agar para santri dan masyarakat sekitar Sumber Gayam tidak perlu jauh-jauh lagi untuk melanjutkan studinya. Pada gilirannya Pendidikan tinggi ini akan menaikkan taraf hidup mereka. 

Namun, belum juga keinginan ini terwujud, Kiai Luthfi Thoha harus menghadap Allah SWT pada tahun 2013. Kiai progresif dan penuh mimpi ini meninggalkan kita semua.

Selanjutnya pesantren beralih dinahkodai oleh adik beliau, Kiai Moh Hifini Thoha. Melalui kepemimpinan sosok faqih dan wira’I inilah cita-cita Kiai Luthfi terwujud. Atas restu Kiai Hifni, dibukalah untuk pertama kalinya perguruan tinggi Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah (STAIFA). 

Kiai Hifni dikenal sebagai pribadi yang wara’, hati-hati, dan penuh perhitungan. Suatu hari beliau bertekad dan berjanji. Sebelum malaikat mau menjeput ajal, beliau akan membangun Gedung terpisah untuk sekolah dan madrasah yang dihuni oleh santri putra dan putri. Sehingga pesantren Al Falah terhindar dari risiko tercampurnya kelas para santri. Rupanya Allah mengijabah doa beliau. Tak lama berselang satu-persatu mulai dari MTs-SMP sampai MA-SMA kini bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara terpisah antara santri putera dan santri puteri. Hal ini tak lepas dari kerja keras dan riyadhoh beliau yang tak putus-putus. Ketika keinginan hamba sudah bulat maka di situlah Allah akan mewujudkan.

Sepuluh tahun Kiai Hifni memimpin Sumber Gayam. Pada 2023 beliau harus mengakhiri kiprahnya untuk pesantren ini. Di masa-masa akhir hayat beliau ini perlahan pesantren mengalami perkembangan fisik yang cukup terasa. Sarana dan fasilitas bagi santri sudah terasa besar manfaatnya. Kesederhanaan, ajeg, istiqomah, dan tawadhu’ menjadi suri tauladan bagi para santri meski beliau sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya.

Sepeninggal Kiai Hifini, adik beliau, Kiai M. Afifuddin Thoha kali ini yang melanjutkan Amanah kepemimpinan pesantren Sumber Gayam. Masih sama-sama dengan cita-cita para pendahulunya. Semangant Kiai Afif untuk pesantren ini tidak pernah luntur sedikitpun. Setiap lini sektor Pendidikan yang berada di bawah naungan pesantren terus beliau galakkan untuk terselenggara secara profesional dan menghasilkan output yang berkualitas. Mencetak santri yang faqih fiddin, memiliki wawasan luas memiliki soft skill mumpuni yang diharapkan mampu membawa perubahan dan manfaat besar ketika mereka Kembali ke tengah-tengah masyarakat.

Di bawah kepengasuhan Kiai Afif ini, Pondok Pesantren Al Falah sudah memasuki usianya yang ke-100 tahun. Satu abad bukanlah waktu yang sebentar. Usia pesantren ini jauh lebih tua dari republik ini. Berbagai dinamika kehidupan terukir pada tembok-tembok perjuangannya. Dan pesantren Sumber Gayam tetap berdiri kokoh hingga detik ini. Hanya satu harapan, Semoga Al Falah Sumber Gayam senantiasa dalam lindungan Allah SWT agar selalu istiqomah dalam mencetak generasi-generasi yang mumpuni di bidang agama, berilmupengetahuan dan berwawasan luas, dan bermafaat bagi seluruh umat. Sumber Gayam tetaplah dalam khidmah ila yaumil qiyamah. Sumber Gayam Mengaji dan mengabdi.

Bagikan Halaman Ini: